Pameran Online


Membangun Kreativitas Remaja Melalui Pelatihan Pembuatan Aksesoris dari Kulit Kacang



Desa patapan merupakan salah satu desa yang mempunyai beberapa potensi unggulan di bidang pertanian, salah satunya adalah potensi kacang. Namun para petani di desa ini biasanya hanya mengelola kacang dengan dijuaI biasa dan di tanam kembali. Oleh karena itu kami dari KKN 57 utm terinspirasi dan mengusulkan program kerja yang mana ingin mengembangkan potensi kacang tersebut menjadi pelatihan pembuatan aksesoris dari kulit kacang. Pelatihan ini bertujuan untuk membangun kreatifvitas melalui inovasi terbaru dari kulit kacang menjadi aksesoris. Kemudian dari pelatihan ini dapat memotivasi warga desa patapan, khususnya para remaja untuk memaksimalkan potensi kacang yang mana tidak hanya kacangnya saja yang bisa diolah, melainkan kulit dari kacang tersebut juga dapat dikembangkan dan bernilai rupiah.
Aksesoris dari kulit kacang yang telah dikemas

Pelatihan pembuatan aksesoris dari kulit kacang dilaksanakan pada tanggal
5 Agustus 2018 bertempat di posko kkn 57 desa patapan. Pelatihan ini diikuti para remaja mulai dari kelas 6 SD. Alat dan bahan telah tersedia, mereka langsung saja mengikuti tata cara yang ada. Anak-anak terlihat penuh semangat dan sangat serius menyimak langkah demi langkah.

"Kubaktikan Karyaku" dalam Bingkai Malam Inagurasi & Pameran Virtual

Para Anggota kelompok KKN 57 UTM dalam Malam Inagurasi dan Pameran Virtual 

           
Malam Inagurasi biasanya identik dengan malam yang penuh  dengan berbagai penampilan dan tentunya bertujuan untuk menghibur para hadirin. Tidak jauh dengan Malam Inagurasi pada umumnya, Malam Inagurasi kami pun diisi dengan penampilan-penampilan hiburan. Dan kebetulan pada saat kami menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Patapan ini bertepatan dengan bulan Kemerdekaan. Sehingga Malam Inagurasi yang kami selenggarakan diisi juga dengan pembagian hadiah untuk para pemenang lomba Agustusan.
            Malam Inagurasi KKN 57 UTM yang bertema Kubaktikan Karyaku dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus yang merupakan malam terakhir kami berada di Desa Patapan. Antusias warga Desa Patapan yang sangat baik membuat Malam Inagurasi kami sangat berkesan. Bukan hanya di hadiri oleh pejabat-pejabat desa saja, anak-anak, remaja, sampai dengan orang dewasa berkumpul menyaksikan Malam Inagurasi kami. Walaupun hanya beralaskan tikar sebagai tempat mereka menyaksikan Malam Inagurasi namun semua itu tidak melunturkan antusias warga untuk tetap duduk hingga acara kami selesai.
            Diawali dengan Doa bersama seluruh warga desa Patapan, hingga penampilan anak-anak Desa Patapan dan diakhiri dengan makan bersama remaja-remaja Desa Patapan sekaligus menghabiskan malam terakhir kami menjadi perpisahan termanis dengan seluruh warga Desa Patapan.
            Selain itu, tepat di depan pintu masuk Malam Inagurasi, kami juga membuat Pameran Virtual yang berisi Produk Unggulan dari kelompok KKN 57 UTM. Produk Unggulan yang dikembangkan dari potensi Desa Patapan ini sebelumnya sudah di kenalkan kepada Warga Desa dengan adanya sosialisasi bagaimana cara membuat Potensi tersebut menjadi sebuah produk yang dapat menghasilkan penghasilan tambahan. Produk Nugget Lele dan Bros Kulit Kacang ini ternyata disambut hangat oleh warga desa, tentu ini suatu kebanggaan tersendiri bagi kelompok KKN 57 UTM.

Rutinitas Hari Jumat dengan Ibu-ibu Muslimat


Kegiatan Muslimat di desa Patapan

     Hari Jumat sekitar pukul 15.30 WIB menjadi hari yang sangat dinanti
 para ibu muslimat di desa Patapan¸Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang. Pada hari Jumat para ibu muslimat bersama-sama berangkat menuju tempat yang  dituju untuk melaksanakan kegiatan muslimat rutinan, serta selalu menghampiri para perempuan KKN kelompok 57 untuk mengajak kami berangkat bersama menuju ke tempat tujuan. Dimana tempat yang digunakan untuk kegiatan muslimat rutinan yaitu rumah salah satu ibu-ibu muslimat yang telah terpilih dalam lotre yang telah dibuat.
     Saat kegiatan muslimat rutinan, para ibu muslimat juga menabung rutin untuk berlangsungnya kegiatan. Didalam kegiatan muslimat rutinan, para ibu muslimat membaca sholawat dan doa, serta mendengarkan ceramah dari ibu Nyai Desa Patapan. Ibu Nyai memberikan ceramah yang bermanfaat untuk para anggota muslimat.
     Suasana saat kegiatan muslimat rutinan berlangsung, para ibu muslimat tersenyum bahagia dan memberikan respon yang baik untuk para perempuan KKN kelompok 57 yang mengikuti kegiatan tersebut. Para ibu muslimat juga merangkul para perempuan KKN  kelompok 57. Saat kegiatan muslimat rutinan berakhir, yaitu sekitar pukul 16.30 WIB, Ibu Nyai membacakan doa untuk tuan rumah dan para anggota serta sebelum pulang para anggota muslimat saling berjabat tangan.




Soto Kaldu Jadi Jamuan Favorit Warga Patapan


Setiap daerah tentunya memiliki kuliner yang wajib untuk dicoba dan menjadi favorit di lidah penggemarnya. Tak terkecuali di Madura, makanan khasnya yakni soto kaldu. Soto kaldu menjadi makanan khas yang unik. Keunikan makanan yang satu ini terlihat dari komposisi bahannya yaitu kacang hijau. Jika biasanya kacang hijau diolah menjadi kolak, justru di sini kacang hijau dapat diolah menjadi soto kaldu yang memilki cita rasa yang  khas.
Soto Kaldu 

Berbicara mengenai makanan khas tentu berkaitan juga dengan jamuan yang ada di setiap daerah. Seperti halnya di desa Patapan ini, soto kaldu menjadi jamuan yang ternyata selalu digemari warga. Dalam berbagai acara, soto kaldu menjadi jamuan yang fleksibel untuk disuguhkan. Salah satunya dalam kegiatan Muslimat desa Patapan sering kali tuan rumah memberi jamuan makanan tersebut.

Optimalkan Potensi Unggulan Desa Melalui Pelatihan Nugget Lele


Lele merupakan potensi unggulan desa Patapan yang bergerak di bidang peternakan. Berawal dari hasil KKN mahasiswa Unair yang memberikan sejumlah 200 bibit lele kepada masyarakat sekitar. Kemudian dikelola dan terus berkembang hingga saat ini. Terhitung ada 3 peternak lele yang menekuni usaha tersebut.
Namun peternak lele di desa Patapan, hanya menjual ikan lele begitu saja. Hal tersebut yang membuat kami, mahasiswa KKN 57 UTM mengusulkan sebuah program kerja yakni pelatihan pembuatan nugget lele. Pelatihan ini bertujuan untuk membangun ekonomi kreatif masyarakat desa Patapan melalui inovasi terbaru dari lele menjadi nugget. Sehingga masyarakat dapat memaksimalkan potensi desa yang ada demi memajukan perekonomian keluarganya.

Sabtu, 4 Juli 2018 Pelatihan nugget lele bersama ibu-ibu PKK 

Pelatihan nugget lele dilaksanakan pada 4 Agustus 2018 bertempat di halaman depan rumah Pak Kepala Desa (Pak Klebun) Patapan. Dalam pelatihan ini dihadiri oleh ketua PKK dan sekretaris desa setempat dengan 20 peserta ibu-ibu PKK. Bahan dan peralatan yang dibutuhkan telah disediakan, para peserta langsung mengikuti arahan dari kami. Antusiasme para ibu PKK dan semangat mereka menjadikan acara pelatihan siang itu berjalan dengan lancar.

Mengulik Sejarah Desa Patapan


Gapura pintu masuk desa Patapan
Dapat diketahui bahwa setiap daerah atau desa memiliki latar belakang yang menjadi karakter serta ciri khas yang ada pada daerah tersebut. Adapun sejarah desa ataupun daerah sendiri sering kali tertuang dari cerita terdahulu dari nenek moyang yang terjaga hingga saat ini yang mana masih sulit diartikan dan dibuktikan dengan fakta yang ada. Cerita tersebut seringkali dapat dikaitkan dengan mitos dari tempat-tempat tertentu yang masih dianggap keramat seperti halnya desa Patapan juga memiliki cerita dan mitos yang sangat kental didalamnya yang menjadi identitas dari desa Patapan itu sendiri.
Adapun kata Patapan sendiri diambil dari kata “Patapa’an” yang berarti untuk bertapa atau tempat untuk bersemedi. Dahulu kala desa Patapan adalah sebuah hutan bambu dimana pada waktu itu rumah warga masih sedikit. Terdapat sebuah pohon Asem (krepek) yang tumbuh tinggi besar yang terkenal kramat oleh warga sekitar. Hingga ada pantangan yang mengatakan “jangan asal lewat daerah dekat pohon Asem, nanti kalau tersandung akan meninggal”. Namun kemudian pohon Asem tersebut hilang kekeramatannya seiring dengan dibangunnya sebuah masjid. Masjid tersebut didirikan karena ide dari Bapak Syamsuri pada tahun 1953. Menurut kepercayaan warga sekitar pohon Asem yang pada waktu itu diberi nama “Krepek” hampir tumbang ke arah barat laut. Namun hal aneh terjadi ketika suatu malam pohon asem tersebut jusrtu tumbang kearah yang berlawanan yakni kearah tenggara. Akan tetapi kejadian tersebut tidak diketahui warga sekitar. Sungguh aneh tapi itulah kenyataan yang terjadi pada tumbangnya pohon asem tersebut. Lebih anehnya lagi pohon asem yang tumbang kearah tenggara secara logika pasti akan mengenai masjid karena posisi pohon asem berada di belakang masjid, akan tetapi justru masjid tersebut tidak tertumbangi oleh pohon asem karena terhalangi oleh pohon bambu yang tumbuh disekitarnya yang tetap kokoh walaupun bambu tersebut tertumbangi oleh pohon asem yang sedemikian besar bentuknya.
Menurut cerita dari Bapak H. Badrus Saman (Abah Naji) yang merupakan mantan Kepala Desa Patapan pada tahun 1971 dan seorang sejarawan menuturkan bahwa sampai saat ini disebelah sekitar pohon asem masih menjadi tempat untuk bertapa atau bersemedi akan tetapi sampai sekarang belum diketahui siapa yang bertapa. Terdapat sesosok ular yang dianggap sebagai penjaga pohon asem tersebut yang dipercaya merupakan sesosok jelmaan jin yang bertugas untuk menjaga pertapaan tersebut, sesosok ular tersebut berbeda dengan ular pada umumnya. Ular tersebut berbentuk pipih dan panjangnya sekitar 30 cm dengan corak warna putih kekuning-kuningan dimana terdapat 7 motif batik di tubuh ular tersebut. Demikianlah sejarah singkat dari desa Patapan.