Mengulik Sejarah Desa Patapan


Gapura pintu masuk desa Patapan
Dapat diketahui bahwa setiap daerah atau desa memiliki latar belakang yang menjadi karakter serta ciri khas yang ada pada daerah tersebut. Adapun sejarah desa ataupun daerah sendiri sering kali tertuang dari cerita terdahulu dari nenek moyang yang terjaga hingga saat ini yang mana masih sulit diartikan dan dibuktikan dengan fakta yang ada. Cerita tersebut seringkali dapat dikaitkan dengan mitos dari tempat-tempat tertentu yang masih dianggap keramat seperti halnya desa Patapan juga memiliki cerita dan mitos yang sangat kental didalamnya yang menjadi identitas dari desa Patapan itu sendiri.
Adapun kata Patapan sendiri diambil dari kata “Patapa’an” yang berarti untuk bertapa atau tempat untuk bersemedi. Dahulu kala desa Patapan adalah sebuah hutan bambu dimana pada waktu itu rumah warga masih sedikit. Terdapat sebuah pohon Asem (krepek) yang tumbuh tinggi besar yang terkenal kramat oleh warga sekitar. Hingga ada pantangan yang mengatakan “jangan asal lewat daerah dekat pohon Asem, nanti kalau tersandung akan meninggal”. Namun kemudian pohon Asem tersebut hilang kekeramatannya seiring dengan dibangunnya sebuah masjid. Masjid tersebut didirikan karena ide dari Bapak Syamsuri pada tahun 1953. Menurut kepercayaan warga sekitar pohon Asem yang pada waktu itu diberi nama “Krepek” hampir tumbang ke arah barat laut. Namun hal aneh terjadi ketika suatu malam pohon asem tersebut jusrtu tumbang kearah yang berlawanan yakni kearah tenggara. Akan tetapi kejadian tersebut tidak diketahui warga sekitar. Sungguh aneh tapi itulah kenyataan yang terjadi pada tumbangnya pohon asem tersebut. Lebih anehnya lagi pohon asem yang tumbang kearah tenggara secara logika pasti akan mengenai masjid karena posisi pohon asem berada di belakang masjid, akan tetapi justru masjid tersebut tidak tertumbangi oleh pohon asem karena terhalangi oleh pohon bambu yang tumbuh disekitarnya yang tetap kokoh walaupun bambu tersebut tertumbangi oleh pohon asem yang sedemikian besar bentuknya.
Menurut cerita dari Bapak H. Badrus Saman (Abah Naji) yang merupakan mantan Kepala Desa Patapan pada tahun 1971 dan seorang sejarawan menuturkan bahwa sampai saat ini disebelah sekitar pohon asem masih menjadi tempat untuk bertapa atau bersemedi akan tetapi sampai sekarang belum diketahui siapa yang bertapa. Terdapat sesosok ular yang dianggap sebagai penjaga pohon asem tersebut yang dipercaya merupakan sesosok jelmaan jin yang bertugas untuk menjaga pertapaan tersebut, sesosok ular tersebut berbeda dengan ular pada umumnya. Ular tersebut berbentuk pipih dan panjangnya sekitar 30 cm dengan corak warna putih kekuning-kuningan dimana terdapat 7 motif batik di tubuh ular tersebut. Demikianlah sejarah singkat dari desa Patapan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar